christa's labyrinth

christa's labyrinth
colorful, maze, mystery

Kamis, 02 Agustus 2012

PASSPORT - sebuah tulisan dari Rhenald Kasali

Teringat sebuah tulisan dari Rhenald Kasali yang beberapa tahun lalu pernah gw baca dari salah satu milis yang gw ikuti, gw jadi pengen share tulisan itu juga disini.

PASSPORT

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.


Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”


Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.



Rhenald Kasali

Rabu, 04 April 2012

Sulawesi Utara = North Celebes = North CeleBEST!!


Diantara banyaknya wilayah di Sulawesi, Sulawesi Utara atau North Celebes adalah wilayah yang paling akrab sama gw. Kenapa? Soalnya North Celebes, atau Sulawesi Utara adalah kampung halaman orang tua gw. Karena itu pulalah, kunjungan gw ke Sulawesi Utara terbilang cukup sering. Sekarang sih, karena jatah cuti kerja terbatas, maka frekuensi kunjungan gw ke Sulawesi Utara cuma sedikit. Tahun 2012 ajah cuma 2x kesana. Tapiiiiiiii waktu jamannya kuliah dulu sihh.. Beuuhhh.. Bisa setahun 5x gw kesana meeennn!!! Dari yang cuma setor muka ke Opa selama 3 hari, sampe ‘pernah mati gaya’ gara-gara 2,5 bulan menghabiskan liburan panjang di Sulawesi Utara.
Sayangnya, jaman dulu tuh, jiwa petualang gw masih belum terlalu muncul!! Udah gitu, karena dulu masih bergantung sm uang saku dari ortu dan gak bisa kemana-mana kalau gak ada duit. Alhasil, jaman dulu tuh, tiap kali ke Sulawesi Utara, gw cuman tidur2an doang di kampung asal orang tua gw, trus jalan2 ke Mall sama temen2 (mall again, mall again..), atau kalau pun ke tempat wisata, yaaahhh palingaaaan yang deket2 doang atau yang udah pernah gw kunjungin. Yang ironis adalah selama 25 tahun gw hidup, kalau ditanya orang-orang "Ta, lo udah pernah ke Bunaken belom?" atau "Ta, bunaken bagus gak? katanya bagus yah?", gw cuma bisa speechless atau jawab seadanya "gw belom pernah kesono!"...(tapi sekarang sihh udahh doonng.. hohohoho..)

Selasa, 03 April 2012

Langit

Langit..
Dari dulu gw udah suka langit. Tapi entah sejak kapan persisnya gw menyukai langit, gw sendiri pun gak inget.
Tau-tau, jaman dulu pas ada friendster, di kolom interest-nya, gw tulis gw suka langit. Kemudian pas bikin account di Myspace, gw juga bilang kalau gw suka langit.
Ya. Gw suka bangettt sama langit!
Meskipun kadang-kadang gw lupa atau gak sadar untuk ngeliat langit setiap kali berada diluar ruangan, tapi setiap kali gw “sadar” memandang langit, gw pasti sangat menikmatinya.
Entah sejak kapan gw sadar kalau langit sudah banyak menginspirasi gw!

Jumat, 16 Maret 2012

IRI tapi tak BERHENTI di IRI

Hahahahaha.. semoga pada gak bingung dengan judulnya :P
Baru ajah beberapa detik lalu gw liat beberapa account FBnya temen-temen lama gw yang menurut gw "menarik".
Benar saja, setelah berkunjung ke akun mereka, rasa IRI gw membuktikan bahwa akun mereka memang "menarik" [well, setidaknya menarik bagi gw].
Ya, GW IRI.

Kamis, 15 Maret 2012

Scarf

-Scarf-
15-03-2012

I lived in the dark with a black scarf covered my eyes..
Alone and blind..
One day u came and offered so much laugh and brought many smiles..
You pulled me from the dark, threw the scarf, then rained me with your lovely words n cares.

Minggu, 04 Maret 2012

Poems of D.H. Lawrence

Berbeda dengan 4 puisi sebelum ini, sesuai judulnya, puisi yang gw posting kali ini adalah puisi karya D.H. Lawrence dari buku Poems of D.H. Lawrence yang gw beli di Kinokuniya tahun lalu. Walaupun belum gw baca semua, tapi puisi ini adalah salah satu puisi favorite gw di buku tersebut.

Ini dia puisinya...

FORSAKEN AND FORLORN
-D.H. Lawrence-


Yummy Dummy Gloomy

Seperti pada postingan sebelumnya, poems gw yang satu ini juga masih copas dari poems gw yang ada di Notes account FB gw. hehehehehe.... kebetulan untuk poems, saya lagi kurang produktif sejak Juli tahun lalu.. :P

So, sebelum ada puisi baru, silahkan dinikmati dulu yang lama-lama.. :)

YUMMY DUMMY GLOOMY 

Yummy... this love is fooling me..
Addicted like yogurt blended
Sour Bitter Sweeter showered my lips blushed my cheek

shock joke smoke thought coke

Tiba-tiba ajah pengen Co-Pas (a.k.a. copy paste) semua poems gw yang ada di FB.. hehehehehehehe.. tidak ada maksud apa-apa.. bukan berarti keinget objek puisi tersebut.. Cuma pengen copas doang, karena ternyata belum gw pindahin ke blog ini. Padahal puisi-puisi gw yang jaman dulu ajah udah gw pindahin sejak kapan tauk.. hehehehe..

SHOCK JOKE SMOKE THOUGHT COKE -4th Feb 2010-

The Power of Mind... (it was not a coincidence training)

The Power of Mind! Ini bukan tagline obat penguat ingatan.. Ini juga bukan sequel-nya kartun MegaMind :P .. Ini adalah sebuah hasil yang diciptakan oleh pikiran..

Jumat, 02 Maret 2012

Mimpi (saya)

Setelah nulis tentang resolusi pada postingan sebelum ini, entah kenapa gw yang tadinya ngantuuuukkk parah saat masih nulis postingan itu, malah jadi seger buger pas udah selesai nulis...
Mungkin salah satu alasannya adalah karena tiba-tiba gw kepikiran materi tulisan berikutnya yaitu tulisan tentang mimpi-mimpi gw. Karena gak mau menunda dan takut nanti kena penyakit lupa dan penyakit gak mood, makaaaa gw putuskan untuk menunda tidur gw malem ini (padahal tumben-tumbenan pengen tidur cepet *biasanya insomnia*) dan memutuskan untuk merampungkan tulisan ini!

MIMPI --

Bagi beberapa orang mungkin menganggap mimpi itu sebagai sesuatu yang hanya bisa tercapai saat orang tersebut tidur. Atau beberapa orang mungkin menganggap mimpinya bisa dicapai, tapi bukan oleh dirinya, melainkan oleh orang lain. Kenapa oleh orang lain? Karena mereka telah lebih dahulu memenjarakan kemampuan mereka pada kalimat "kayaknya gak bisa deh" atau "kayaknya gak mungkin deh" atau "susahhhh bangeett gila!" atau "yah iyaaa kalo dia sih bisa karena dia bla bla bla, tapi kalo gw?" atau bahkan satu kalimat yang mengandung kata mimpi itu sendiri, yaitu "ngiiiiimmmmppiiiiii bangettttt", atau berbagai kalimat lainnya yang secara gak sadar akan memenjarakan kemampuan kita yang sebenarnya masih bisa melakukan lebih untuk menggapai mimpi.